Jumat, 13 September 2013

Dakwah dan Konsekuensi Mendiamkannya




Tak dapat dipungkiri, kemungkaran demi kemungkaran senantiasa terjadi saat ini, baik secara kita sadari maupun tidak kita sadari.  Banyak sekali kemungkaran yang terjadi, yang telah menggambarkan bentuk yang sangat memprihatinkan. Semua kerusakan dan kemungkaran itu terjadi, akibat ulah tangan manusia

Allah SWT berfirman :
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. ar-Rum: 41)

Imam Ibnu Katsir, menafsirkan makna “Bimma Katsabats Aidinnas” (ulah tangan manusia)  ini sama dengan “Al-Maksyiattu”  (Kemaksiatan). Kemaksiatan yang timbul akibat Syariat Islam tidak diterapkan.

Maka dari ayat diatas dapat disimpulkan bahwa : sebab utama terjadinya kerusakan karena terbukanya pintu kemaksiatan. Dan semua pintu kemaksiatan itu dapat terbuka karena tidak diterapkannya Syariat Islam secara Kaffah.

Ketika kita mengetahui, faktor utama atas terjadinya Kemungkaran ini, maka  tidak ada jalan yang diambil selain bergerak untuk memusnahkan kemaksiatan tersebut. Mengapa ? karena menghancurkan kemungkaran, serta menerapkan Syariat islam merupakan Konsekuensi kita sebagai muslim yang harus dipenuhi. Ketika kita mengambil jalan untuk diam atas semua kemungkaran yang terjadi, maka patut dipertanyakan keimanan kita.

Rasulullah SAW bersabda :
"Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu, hendaklah dia merubah hal itu dengan lisannya. Apabila tidak mampu lagi, hendaknya dia ingkari dengan hatinya dan inilah selemah-lemah iman." (HR. Muslim no. 49)

Didalam hadist diatas dijelaskan bahwa ketika kita hanya mengingkari dalam hati atas semua kemaksiatan terjadi, maka disitulah letak Selemah-lemahnya iman. Maksudnya adalah orang-orang yang hanya mengikari kemungkaran tersebut dalam hati mereka tanpa melakukan hal yang lain atau tindakkan yang nyata untuk merubah kemungkaran itu, maka keimanannya sudah berada diambang garis perbatasan antara keimanan dengan kekufuran.

Ketika kita mengambil sikap untuk diam, padahal kita tahu bahwa itu semua adalah kemungkaran, dan banyak orang-orang yang tersesatkan dalam kemungkaran tersebut atas diamnya kita. maka tanyalah pada diri kita sendiri, pantaskah kita menyandang gelar sebagai seorang muslim ?

Maka Saksikanlah, betapa banyak kaum muslimin yang saat ini ditumpahkan darahnya, anak-anak dan wanita diperkosa secara bengis, seorang ayah dipaksa melihat anaknya digorok didepan matanya, Kemiskinan, kelaparan, tingginya angka aborsi dan seks bebas, pelacuran dimana-mana, rusaknya moral anak bangsa, korupsi, penyelewengan pemerintah atas rakyatnya sendiri, tingginya angka anak putus sekolah, tingginya tingkat kriminalitas dll, semua kemungkaran hebat itu akan senantiasa terjadi secara terus menerus dan bahkan turun temurun jika kita hanya mengambil langkah untuk diam atas itu semua.

Dari Nu'man bin Basyir ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Perumpamaan orang yang melaksanakan perintah Allah dengan orang yang melanggarnya adalah seperti satu kaum yang berbagi tempat di sebuah kapal. Sebagian orang mendapat tempat di bagian atas, sedangkan sebagian yang lain mendapat tempat di lambung kapal. Orang-orang yang berada di lambung kapal, jika ingin mengambil air, mereka harus melewati orang-orang yang berada di atas. Mereka berkata, 'Sebaiknya kita lubangi saja lambung kapal ini (untuk mengambil air) agar tidak mengganggu orang-orang yang berada di atas.' Jika keinginan mereka itu tidak dicegah, mereka semua akan binasa. Sebaliknya jika dicegah mereka semua akan selamat.” (HR. Bukhari, Turmudzi & Ahmad)

Rasulullah SAW, telah menggambarkan bentuk perumpamaan, bahwa umat islam “diharuskan” untuk saling mengingatkan antara satu dengan yang lainnya, untuk senantiasa berpegang teguh pada tali simpul agama Allah dan jangan pernah untuk sekali-kali melepasnya. Inilah konsekuensi kita sebagai muslim yang wajib untuk terikat akan perintah-Nya dan senantiasa menjauhi semua larangan-Nya.

Maka mari kita berdakwah, untuk apa yang ummat butuhkan, yakni menghancurkan semua kemungkaran dengan menerapkan Syariat islam dalam Naungan Khilafah (Institusi Negara pelaksana Hukum Syariah).

Mari sudahi mimpi buruk ini……………………………

Wallahualam bis shawab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar