Tak dapat
dipungkiri, kemungkaran demi kemungkaran senantiasa terjadi saat ini, baik
secara kita sadari maupun tidak kita sadari. Banyak sekali kemungkaran yang terjadi, yang telah
menggambarkan bentuk yang sangat memprihatinkan. Semua kerusakan dan kemungkaran
itu terjadi, akibat ulah tangan manusia
Allah SWT
berfirman :
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut
disebabkan karena perbuatan tangan
manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari
akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS.
ar-Rum: 41)
Imam Ibnu
Katsir, menafsirkan makna “Bimma
Katsabats Aidinnas” (ulah tangan manusia) ini sama dengan “Al-Maksyiattu” (Kemaksiatan). Kemaksiatan yang timbul
akibat Syariat Islam tidak diterapkan.
Maka dari
ayat diatas dapat disimpulkan bahwa : sebab utama terjadinya kerusakan karena
terbukanya pintu kemaksiatan. Dan semua pintu kemaksiatan itu dapat terbuka
karena tidak diterapkannya Syariat Islam secara Kaffah.
Ketika kita
mengetahui, faktor utama atas terjadinya Kemungkaran ini, maka tidak ada jalan yang diambil selain bergerak
untuk memusnahkan kemaksiatan tersebut. Mengapa ? karena menghancurkan kemungkaran,
serta menerapkan Syariat islam merupakan Konsekuensi kita sebagai muslim yang
harus dipenuhi. Ketika kita mengambil jalan untuk diam atas semua kemungkaran
yang terjadi, maka patut dipertanyakan keimanan kita.
Rasulullah
SAW bersabda :
"Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya
dengan tangannya. Apabila tidak mampu, hendaklah dia merubah hal itu
dengan lisannya. Apabila tidak mampu lagi, hendaknya dia ingkari dengan
hatinya dan inilah selemah-lemah
iman." (HR. Muslim no. 49)
Didalam hadist
diatas dijelaskan bahwa ketika kita hanya mengingkari dalam hati atas semua
kemaksiatan terjadi, maka disitulah letak Selemah-lemahnya
iman. Maksudnya adalah orang-orang yang hanya mengikari kemungkaran
tersebut dalam hati mereka tanpa melakukan hal yang lain atau tindakkan yang
nyata untuk merubah kemungkaran itu, maka keimanannya sudah berada diambang
garis perbatasan antara keimanan dengan kekufuran.
Ketika kita
mengambil sikap untuk diam, padahal kita tahu bahwa itu semua adalah
kemungkaran, dan banyak orang-orang yang tersesatkan dalam kemungkaran tersebut
atas diamnya kita. maka tanyalah pada diri kita sendiri, pantaskah kita menyandang
gelar sebagai seorang muslim ?
Maka Saksikanlah,
betapa banyak kaum muslimin yang saat ini ditumpahkan darahnya, anak-anak dan
wanita diperkosa secara bengis, seorang ayah dipaksa melihat anaknya digorok
didepan matanya, Kemiskinan, kelaparan, tingginya angka aborsi dan seks bebas,
pelacuran dimana-mana, rusaknya moral anak bangsa, korupsi, penyelewengan
pemerintah atas rakyatnya sendiri, tingginya angka anak putus sekolah,
tingginya tingkat kriminalitas dll, semua kemungkaran hebat itu akan senantiasa
terjadi secara terus menerus dan bahkan turun temurun jika kita hanya mengambil
langkah untuk diam atas itu semua.
Dari Nu'man bin Basyir ra berkata,
bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Perumpamaan orang yang melaksanakan perintah
Allah dengan orang yang melanggarnya adalah seperti satu kaum yang berbagi
tempat di sebuah kapal. Sebagian orang mendapat tempat di bagian atas,
sedangkan sebagian yang lain mendapat tempat di lambung kapal. Orang-orang yang
berada di lambung kapal, jika ingin mengambil air, mereka harus melewati
orang-orang yang berada di atas. Mereka berkata, 'Sebaiknya kita lubangi saja lambung
kapal ini (untuk mengambil air) agar tidak mengganggu orang-orang yang berada
di atas.' Jika keinginan mereka itu tidak dicegah, mereka semua akan binasa. Sebaliknya jika dicegah mereka
semua akan selamat.” (HR. Bukhari, Turmudzi & Ahmad)
Rasulullah SAW, telah menggambarkan
bentuk perumpamaan, bahwa umat islam “diharuskan”
untuk saling mengingatkan antara satu dengan yang lainnya, untuk senantiasa
berpegang teguh pada tali simpul agama Allah dan jangan pernah untuk
sekali-kali melepasnya. Inilah konsekuensi kita sebagai muslim yang wajib untuk
terikat akan perintah-Nya dan senantiasa menjauhi semua larangan-Nya.
Maka mari kita berdakwah, untuk apa yang ummat
butuhkan, yakni menghancurkan semua kemungkaran dengan menerapkan Syariat islam
dalam Naungan Khilafah (Institusi Negara pelaksana Hukum Syariah).
Mari sudahi mimpi buruk ini……………………………
Wallahualam bis shawab

Tidak ada komentar:
Posting Komentar